PENDERITAAN RAKYAT
Puisi Siti Halimah
Polusi udara dimana-mana
pencemaran limbah pabrik,
merusak lingkungan.
Tak ada yang menyadarinya,
tak ada yang menghiraukannnya.
Bumi semakin hari semakin panas.
meningkatnya udara-udara yang kotor.
maraknya anak-anak bangsa yang harus memungut sampah.
Pemerintah hanya diam,
tak memiliki hati nurani.
belas kasihan,
atau rasa iba sedikit pun.
Pemerintah menghambur-hamburkan uang negara.
menyogok orang sana-sini
melakukan tindak kejahatan yang dibenci oleh kami.
Janji dan ucapan manis
kini telah sirna bak terhapus dosanya.
permohonan yang tiada henti kepadanya.
Jika salah,
orang lain yang dijadikan kambing hitam.
komplotannya yang melindunginya...
Jadi apa negaraku ini ???
negara yang katanya telah merdeka,
tapi masih saja ada penjajah.
Hukum bisa dibeli dengan uang.
polisi bisa disogok dengan uang.
bahkan tidur dipenjarapun masih bisa bermain dengan uang.
Apa yang terjadi TUHAN....
apa yang terjadi dengan pemimpin-pemimpin kami ?
dengan wakil-wakil kami ?
apa mereka tak pernah sadar,
bahwa mereka bisa hidup enak karna kami.
menikmati segalanya dari uang kami...
sungguh tak bermoral !!!
mengaku lulusan serjana,
tapi tidak tau, apa itu penderitaan rakyat.
Home » Posts filed under Puisi Kritik Sosial
Derita Negeriku
DERITA NEGERIKU
Puisi Dewi Santi
Indonesia...
Negeri indah dan kaya
350 tahun dijajah Belanda
3,5 tahun dijajah jepang
Namun pejuang kemerdekaan tak henti-hentinya mempertahankan tanah tempat aku dilahirkan ini
Demi dikibarkannya sang merah putih
Demi dihentikannya pertumpahan darah
Mereka rela mati
Namun apa daya
Sampai saat ini rakyat masih menderita
Bukan karena penjajahan bangsa asing
Tapi penjajahan oleh bangsa sendiri
Mereka punya mata
Tapi hanya bisa melihat kekayaan
Mereka punya hati
Tapi tak bisa merasakan penderitaan rakyat kecil
Mereka punya telinga
Tapi tak bisa mendengar jerit tangis rakyat kecil
Masih pantaskah itu disebut sebagai seorang pemimpin?
Sampai kapan penderitaan ini akan berakhir?
Akankah rakyat kecil yang kan selalu menderita?
Tidak ada yang kan dapat menjawabnya
Hingga adanya suatu keajaiban.
Puisi Dewi Santi
Indonesia...
Negeri indah dan kaya
350 tahun dijajah Belanda
3,5 tahun dijajah jepang
Namun pejuang kemerdekaan tak henti-hentinya mempertahankan tanah tempat aku dilahirkan ini
Demi dikibarkannya sang merah putih
Demi dihentikannya pertumpahan darah
Mereka rela mati
Namun apa daya
Sampai saat ini rakyat masih menderita
Bukan karena penjajahan bangsa asing
Tapi penjajahan oleh bangsa sendiri
Mereka punya mata
Tapi hanya bisa melihat kekayaan
Mereka punya hati
Tapi tak bisa merasakan penderitaan rakyat kecil
Mereka punya telinga
Tapi tak bisa mendengar jerit tangis rakyat kecil
Masih pantaskah itu disebut sebagai seorang pemimpin?
Sampai kapan penderitaan ini akan berakhir?
Akankah rakyat kecil yang kan selalu menderita?
Tidak ada yang kan dapat menjawabnya
Hingga adanya suatu keajaiban.
Home » Posts filed under Puisi Kritik Sosial
Tak Sempurna
TAK SEMPURNA
Puisi LIK
Jangan percaya pada apa siapa ada
Terlebih pada siapa yang dibenci
Siapa dicinta dia pendusta
Antara kita... antara kita
Jiwa raga beta
Percayakan pada diri
Menghilang benci di hari-hari
Percayalah-percalah ...
Pedih kini perih di sini sukma ini
Puisi LIK
Jangan percaya pada apa siapa ada
Terlebih pada siapa yang dibenci
Siapa dicinta dia pendusta
Antara kita... antara kita
Jiwa raga beta
Percayakan pada diri
Menghilang benci di hari-hari
Percayalah-percalah ...
Pedih kini perih di sini sukma ini
Home » Posts filed under Puisi Kritik Sosial
Pemuda pemudi Kota Besar
PEMUDA PEMUDI KOTA BESAR
Puisi LIK
Lebih dari samudra di bawah senyum Fajar
Sang surya singsingkan mahkota gaungan asmara
Dua anak manusia : berbinar, bersinar
Membuka hati bergelut senda
Angin menari sandarkan jiwa
Membunyi suara hati galungan kata
Seluruh penuh hanya dunia
Retak serentak hapus budinya
Dua menyatu bersama
Menyapu dan tak berlaku
Sekedip semua berlalu
Setitik sisa lelah tak dirasa
Ingatan atas ranjang
Hingga kelam datangkan petang
Bawa mereka bersama bintang
Puisi LIK
Lebih dari samudra di bawah senyum Fajar
Sang surya singsingkan mahkota gaungan asmara
Dua anak manusia : berbinar, bersinar
Membuka hati bergelut senda
Angin menari sandarkan jiwa
Membunyi suara hati galungan kata
Seluruh penuh hanya dunia
Retak serentak hapus budinya
Dua menyatu bersama
Menyapu dan tak berlaku
Sekedip semua berlalu
Setitik sisa lelah tak dirasa
Ingatan atas ranjang
Hingga kelam datangkan petang
Bawa mereka bersama bintang
Home » Posts filed under Puisi Kritik Sosial
Suara Dari Langit
SUARA DARI LANGIT
Puisi Egi Hendrawan
Aku bukan khalil
Ini bukan puisi cinta
Dan bukan kata-kata kosong
Kata bagaikan peluru
Mulut adalah senjata
Untuk..
Menembus batas langit ke tujuh
Membawa dewi keadilan
Berpijak kembali di bumi
Hakim bagaikan wayang bertopeng
Penguasa adalah dalang
Dalang kebohongan
Dalang penghianatan
Dalang kehancuran
Semua ketakutan,menjeritlah
Menangislah dalam neraka
Tersenyumlah dalam surga
Pimpinlah dunia dengan cita,cinta dan harapan
Puisi Egi Hendrawan
Aku bukan khalil
Ini bukan puisi cinta
Dan bukan kata-kata kosong
Kata bagaikan peluru
Mulut adalah senjata
Untuk..
Menembus batas langit ke tujuh
Membawa dewi keadilan
Berpijak kembali di bumi
Hakim bagaikan wayang bertopeng
Penguasa adalah dalang
Dalang kebohongan
Dalang penghianatan
Dalang kehancuran
Semua ketakutan,menjeritlah
Menangislah dalam neraka
Tersenyumlah dalam surga
Pimpinlah dunia dengan cita,cinta dan harapan
Home » Posts filed under Puisi Kritik Sosial
Bangsaku
BANGSAKU
Puisi Salma Sulistyaningtyas
Bangsaku....
Bangsa yang cinta damai
Bangsa yang ramah
Bangsa yang beradab....
Tapi,..mengapa saudara-saudaraku masih berpaling
Kecewakah?atau hanya sekedar gengsi
Tidak....Aku tidak mau berpaling dari negeri ini
Kadang aku berfikir, kadang aku juga merenung...
Wahai bangsaku...
Wahai saudara-saudaraku..
Cintailah negeri nan elok ini
Jangan kau rusak negeri ini dengan demonstrasi yang anarkis
Jangan kau hancurkan negeri ini dengan narkoba
Jangan kau kotori negeri ini dengan maksiat
Jangan kau nodai negeri ini dengan korupsi dan kolusi...
Puisi Salma Sulistyaningtyas
Bangsaku....
Bangsa yang cinta damai
Bangsa yang ramah
Bangsa yang beradab....
Tapi,..mengapa saudara-saudaraku masih berpaling
Kecewakah?atau hanya sekedar gengsi
Tidak....Aku tidak mau berpaling dari negeri ini
Kadang aku berfikir, kadang aku juga merenung...
Wahai bangsaku...
Wahai saudara-saudaraku..
Cintailah negeri nan elok ini
Jangan kau rusak negeri ini dengan demonstrasi yang anarkis
Jangan kau hancurkan negeri ini dengan narkoba
Jangan kau kotori negeri ini dengan maksiat
Jangan kau nodai negeri ini dengan korupsi dan kolusi...
Home » Posts filed under Puisi Kritik Sosial
Kapitalis Menolak Krisis
KAPITALIS MENOLAK KRISIS
Puisi Dias Nurhadias
Lelah menyerpih pada setiap denyutan jam
Sosok itu masih membanting tulang
Mungkin takan dihentikan sebelum remuk
Sebelum kepingan uang menjadi emas
Sungguh malang nasibmu nak !
Menanti di mengerti namun tak kunjung datang
Sudahlah kupikir kau tinggal menunggu mati !!
Atau pergi dengan harapan mendapatkan pengertian
Mereka hanya peduli akan laba
Sedikit saja berkurang bibir mereka peka
Pikirkan juga tuan manusia terlahir merdeka
Puisi Dias Nurhadias
Lelah menyerpih pada setiap denyutan jam
Sosok itu masih membanting tulang
Mungkin takan dihentikan sebelum remuk
Sebelum kepingan uang menjadi emas
Sungguh malang nasibmu nak !
Menanti di mengerti namun tak kunjung datang
Sudahlah kupikir kau tinggal menunggu mati !!
Atau pergi dengan harapan mendapatkan pengertian
Mereka hanya peduli akan laba
Sedikit saja berkurang bibir mereka peka
Pikirkan juga tuan manusia terlahir merdeka
Home » Posts filed under Puisi Kritik Sosial
Wajah Pemimpin Negeri Temanku
WAJAH PEMIMPIN NEGERI TEMANKU
Puisi Angri Saputra
Pemimpinku lucu, kata temanku
sukanya bercerita
tentang jiwanya yang terancam
perihal keluarganya yang diteror
Aih, temanku bersedih
katanya, pemimpinnya suka menangis
mengeluh, betapa keputusannya sulit
berkesah, mengapa rakyat melawannya
Aih, untung saja pemimpinku tak seperti pemimpinmu, temanku
Puisi Angri Saputra
Pemimpinku lucu, kata temanku
sukanya bercerita
tentang jiwanya yang terancam
perihal keluarganya yang diteror
Aih, temanku bersedih
katanya, pemimpinnya suka menangis
mengeluh, betapa keputusannya sulit
berkesah, mengapa rakyat melawannya
Aih, untung saja pemimpinku tak seperti pemimpinmu, temanku
Home » Posts filed under Puisi Kritik Sosial
Kemacetan Kota
KEMACETAN KOTA
Puisi Elfri Lidwina
Di kala sang surya menampakkan diri
Aku bergegas berangkat ke sekolah
Menggunakan kendaraan milik ayahku
Yang melaju seiring berjalannya waktu
Macet… Macet… Macet...
Itulah yang selalu kutemui
Di tengah –tengah kesibukan dan keramaian
Mobil-mobil di jalan merangkak perlahan
Dengan masing-masing tujuan
Oh…
Akankah terus seperti ini?
Mengapa banyak orang yang memikirkan diri sendiri?
Angkutan kota yang berseliweran menaik-turunkan penumpang
Menjadi salah satu pemicu terjadinya macet
Kendaraan parkir di sembarang tempat
Tak peduli dengan rambu-rambu yang berdiri di sudut jalan
Inikah bentuk kota metropolitan ?
Dengan masyarakat yang tak tahu aturan ?
Hingga memang harus kuakui
Seperti inilah kehidupan kota
Puisi Elfri Lidwina
Di kala sang surya menampakkan diri
Aku bergegas berangkat ke sekolah
Menggunakan kendaraan milik ayahku
Yang melaju seiring berjalannya waktu
Macet… Macet… Macet...
Itulah yang selalu kutemui
Di tengah –tengah kesibukan dan keramaian
Mobil-mobil di jalan merangkak perlahan
Dengan masing-masing tujuan
Oh…
Akankah terus seperti ini?
Mengapa banyak orang yang memikirkan diri sendiri?
Angkutan kota yang berseliweran menaik-turunkan penumpang
Menjadi salah satu pemicu terjadinya macet
Kendaraan parkir di sembarang tempat
Tak peduli dengan rambu-rambu yang berdiri di sudut jalan
Inikah bentuk kota metropolitan ?
Dengan masyarakat yang tak tahu aturan ?
Hingga memang harus kuakui
Seperti inilah kehidupan kota
Home » Posts filed under Puisi Kritik Sosial
Beling-beling Kaca Tak Berarti
BELING-BELING KACA TAK BERARTI
Puisi Sekar Ningrum
Duduk bersimpuh di singgasana
Kini bukanlah untuk mengabdi
Bukan lagi tuk memberi
Bukan lagi tuk mengasihi
Kesejahteraan hidup ini
Hamba-hamba kecil yang selalu menanti
Kesejahteraan
Kebahagiaan
dan Kemakmuran hidup
Yang kini tiada lagi
Kini semua tlah sirna
Kini semua tlah punah
Tak ada lagi yang bisa curahkan aspirasi
Agar dapat kehidupan yang damai
Agar dapat kehidupan yang tenteram
Kemiskinan, Kesengsaraan takkan terwujud
Jika kau tak memulainya
Pertengkaran, Perselisihan takkan terwujud
Jika kau tak mengawalinya
Kini kau tlah meluluh lantahkan
Nasib dan kebahagiaan kami
Yang saat ini jadi permainan
Terus menerus dipermainkan
Tiada lagi kepedulian
Tiada lagi perhatian
Kau yang tlah lupa akan nasib kami
Kau yang tlah lupa akan kehidupan ini
Semuanya tlah berubah
Kepedulianmu kini tak lagi hiasi
Dan tak lagi warnai
Hidup kami yang kini jadi Beling-beling Kaca Tak Berarti
Wahai para pemimpin !
Kami hanya ingin kesejahteraan
Kami hanya ingin kemakmuran
Yang bisa buat hidup kami bahagia
Yang bisa buat hidup kami sejahtera
Kami berharap semoga tak ada lagi pertengkaran
Tak ada lagi perselisihan
Serta kemiskinan dan kesengsaraan
Bantulah kami !
Sediakan kami sarana yang layak tuk kami tempati
Biarkan kami hidup mandiri
Mengadu nasib
Membanting tulang
Agar kami dapat wujudkan
Kebahagiaan hidup yang saat ini tertunda
Puisi Sekar Ningrum
Duduk bersimpuh di singgasana
Kini bukanlah untuk mengabdi
Bukan lagi tuk memberi
Bukan lagi tuk mengasihi
Kesejahteraan hidup ini
Hamba-hamba kecil yang selalu menanti
Kesejahteraan
Kebahagiaan
dan Kemakmuran hidup
Yang kini tiada lagi
Kini semua tlah sirna
Kini semua tlah punah
Tak ada lagi yang bisa curahkan aspirasi
Agar dapat kehidupan yang damai
Agar dapat kehidupan yang tenteram
Kemiskinan, Kesengsaraan takkan terwujud
Jika kau tak memulainya
Pertengkaran, Perselisihan takkan terwujud
Jika kau tak mengawalinya
Kini kau tlah meluluh lantahkan
Nasib dan kebahagiaan kami
Yang saat ini jadi permainan
Terus menerus dipermainkan
Tiada lagi kepedulian
Tiada lagi perhatian
Kau yang tlah lupa akan nasib kami
Kau yang tlah lupa akan kehidupan ini
Semuanya tlah berubah
Kepedulianmu kini tak lagi hiasi
Dan tak lagi warnai
Hidup kami yang kini jadi Beling-beling Kaca Tak Berarti
Wahai para pemimpin !
Kami hanya ingin kesejahteraan
Kami hanya ingin kemakmuran
Yang bisa buat hidup kami bahagia
Yang bisa buat hidup kami sejahtera
Kami berharap semoga tak ada lagi pertengkaran
Tak ada lagi perselisihan
Serta kemiskinan dan kesengsaraan
Bantulah kami !
Sediakan kami sarana yang layak tuk kami tempati
Biarkan kami hidup mandiri
Mengadu nasib
Membanting tulang
Agar kami dapat wujudkan
Kebahagiaan hidup yang saat ini tertunda
Home » Posts filed under Puisi Kritik Sosial
Bukan di Meja Politikus Bukan di Meja SPSI
BUKAN DI MULUT POLITIKUS BUKAN DI MEJA SPSI
Puisi Supri Yanto
berlima dari solo berkeretaapi kelas ekonomi murah
tak dapat kursi melengkung tidur di kolong
pas tepat di kepala kami bokong-bong
kiri kanan telapak kaki tas sandal sepatu
tak apa di pertemuan ketemu lagi kawan
dari krawang-bandung-jakarta-jogya-tangerang
buruh pabrik plastik, tekstil, kertas dan macam-macam
datang dengan satu soal
dari jakarta pulang tengah malam dapat bis rongsok
pulang letih tak apa diri telah ditempa
sepanjang jalan hujan kami jongkok tempat duduk
nempel jendela
bocor
bocor
sepanjang jalan tangan terus mengelapi
agar pakeyan tak basah
dingin
dingin
tapi tak apa
diri telah ditempa
kepala dan dada masih penuh nyanyi panas
hari depan buruh di tangan kami sendiri
bukan di mulut politikus
bukan di meja spsi
Puisi Supri Yanto
berlima dari solo berkeretaapi kelas ekonomi murah
tak dapat kursi melengkung tidur di kolong
pas tepat di kepala kami bokong-bong
kiri kanan telapak kaki tas sandal sepatu
tak apa di pertemuan ketemu lagi kawan
dari krawang-bandung-jakarta-jogya-tangerang
buruh pabrik plastik, tekstil, kertas dan macam-macam
datang dengan satu soal
dari jakarta pulang tengah malam dapat bis rongsok
pulang letih tak apa diri telah ditempa
sepanjang jalan hujan kami jongkok tempat duduk
nempel jendela
bocor
bocor
sepanjang jalan tangan terus mengelapi
agar pakeyan tak basah
dingin
dingin
tapi tak apa
diri telah ditempa
kepala dan dada masih penuh nyanyi panas
hari depan buruh di tangan kami sendiri
bukan di mulut politikus
bukan di meja spsi
Home » Posts filed under Puisi Kritik Sosial
Indonesiaku Pincang
INDONESIAKU PINCANG
Puisi Adnan Azhari
Sangat elok nan syahdu sa’at kupandangi hamparan permadani menghijau.
Gunung tinggi menjulang, dan pohon pinus yang seakan menserasikan pemandangan itu. Aku bangga menjadi warga negara surga indonesia..aku bangga………..!!!
Namun keindahan itu hilang seketika kala hama dan tikus berkedok merusak tatanan apa yang ada.
Kami manusia yang awam, yang tak tau apa itu tatanan pemerintahan, karena yang kami tau hanyalah kelestarian tatanan yang damai. Tidak lebih dari itu…
Namun semuanya rusak, tiada harapan karena ANJING-ANJING LIAR PELIHARAAN”DPR”
Yang duduk angkuh diatas kursi import yang konon harganya juta’an rupiah..
Bodoh……………..sungguh bodoh.
Puisi Adnan Azhari
Sangat elok nan syahdu sa’at kupandangi hamparan permadani menghijau.
Gunung tinggi menjulang, dan pohon pinus yang seakan menserasikan pemandangan itu. Aku bangga menjadi warga negara surga indonesia..aku bangga………..!!!
Namun keindahan itu hilang seketika kala hama dan tikus berkedok merusak tatanan apa yang ada.
Kami manusia yang awam, yang tak tau apa itu tatanan pemerintahan, karena yang kami tau hanyalah kelestarian tatanan yang damai. Tidak lebih dari itu…
Namun semuanya rusak, tiada harapan karena ANJING-ANJING LIAR PELIHARAAN”DPR”
Yang duduk angkuh diatas kursi import yang konon harganya juta’an rupiah..
Bodoh……………..sungguh bodoh.
Home » Posts filed under Puisi Kritik Sosial
Santapan Jalan
SANTAPAN JALAN
Puisi Nur Afiani
Begitu tegar dirimu
Setiap hari tertindih beban nan berat
Tak peduli racun yang menyelubungimu
Serta tetesan air yang menyerbumu
Begitu banyak yang dirasakan setiap di atasmu
Begitu banyak raut yang terlepas
Namun, apa yang dilakukan pemimpin kita?
Berlalu dengan palang di sisinya
Adilkah negara ini?
Pemimpin memberimu santapan terbanyak
Sedangkan dirimu sudah tak sanggup
Dan sengsara pun merajut rakyat
Puisi Nur Afiani
Begitu tegar dirimu
Setiap hari tertindih beban nan berat
Tak peduli racun yang menyelubungimu
Serta tetesan air yang menyerbumu
Begitu banyak yang dirasakan setiap di atasmu
Begitu banyak raut yang terlepas
Namun, apa yang dilakukan pemimpin kita?
Berlalu dengan palang di sisinya
Adilkah negara ini?
Pemimpin memberimu santapan terbanyak
Sedangkan dirimu sudah tak sanggup
Dan sengsara pun merajut rakyat
Home » Posts filed under Puisi Kritik Sosial
Duri-duri Kokoh Berdiri
DURI-DURI KOKOH BERDIRI
Puisi Muhaddisin
Duri-duri tak bisa kering
duri-duri tak bisa mati
oleh anging-angin semusim
oleh hujat berhari-hari
duri-duri tak bisa hilang
duri-duri tak bisa lenyap
oleh air hangat-hangat kuku
oleh panas-panas tai ayam
duri-duri tak bisa musnah
duri-duri tak bisa punah
oleh pepaduan suara
oleh obrol santai belakang meja
duri-duri tak bisa tumpul
duri-duri tak bisa gundul
oleh pisau bermata satu
oleh mata bermuka dua
duri-duri tak bisa sadar
duri-duri tak bisa pudar
oleh penjara-penjara istimewa
oleh bui bertahta megah
duri-duri tak bisa hancur
duri-duri tak bisa luntur
oleh tetesan air liur
oleh orang kubangan lumpur
duri-duri dimana-mana
duri-duri disana-sini
di jaman orde baru
di bank century
di kantong safari DPR
di kementrian pajak
di proyek wisma atlet
di kejaksaan
di instansi kepolisian
sampai juga di KPK
lalu turun-temurun ke anak cucu negeri
17 Agustus 2011
Puisi Muhaddisin
Duri-duri tak bisa kering
duri-duri tak bisa mati
oleh anging-angin semusim
oleh hujat berhari-hari
duri-duri tak bisa hilang
duri-duri tak bisa lenyap
oleh air hangat-hangat kuku
oleh panas-panas tai ayam
duri-duri tak bisa musnah
duri-duri tak bisa punah
oleh pepaduan suara
oleh obrol santai belakang meja
duri-duri tak bisa tumpul
duri-duri tak bisa gundul
oleh pisau bermata satu
oleh mata bermuka dua
duri-duri tak bisa sadar
duri-duri tak bisa pudar
oleh penjara-penjara istimewa
oleh bui bertahta megah
duri-duri tak bisa hancur
duri-duri tak bisa luntur
oleh tetesan air liur
oleh orang kubangan lumpur
duri-duri dimana-mana
duri-duri disana-sini
di jaman orde baru
di bank century
di kantong safari DPR
di kementrian pajak
di proyek wisma atlet
di kejaksaan
di instansi kepolisian
sampai juga di KPK
lalu turun-temurun ke anak cucu negeri
17 Agustus 2011
Home » Posts filed under Puisi Kritik Sosial
Cinta untuk Indonesia
CINTA UNTUK INDONESIA
Puisi Nur Afiani
Indonesia itu kaya
Indonesia itu hebat
Kristal beningku mencair mendengarnya
Hatiku sakit bak ditusuk tujuh pedang
Kala aku melalui jalan setapak
Kala aku mengarungi samudera nan luas
Kulirik pemuka rakyat memakan uang rakyat
Einsten Indonesia yang melangkah ke luar kandang
Serta aset bangsa yang meniru budaya barat
Apakah benar Indonesia kaya?
Apakah benar Indonesia hebat?
Sanubariku selalu mengetuk jalan pikiranku
Seolah-olah ia berkata padaku,
“Pandanglah ke depan untuk waktu yang terus berputar!
Penjajahan tidak lagi mengurung kita
Perang belum meletus di tanah air tercinta
Tapi, apa yang terjadi pada aset bangsa?
Ke mana Indonesia ini akan dibawa?”
Aku yakin
Dan aku tak pernah berhenti berharap
Dengan budaya yang masih mengikat cinta
Dengan rangkaian cinta yang selalu dikemas
Indonesia akan bangkit kembali
Semangatnya akan terus berkibar
Seperti Sang Saka Merah Putih
Yang terus berkibar
Di antara harimau yang siap menerkam
Puisi Nur Afiani
Indonesia itu kaya
Indonesia itu hebat
Kristal beningku mencair mendengarnya
Hatiku sakit bak ditusuk tujuh pedang
Kala aku melalui jalan setapak
Kala aku mengarungi samudera nan luas
Kulirik pemuka rakyat memakan uang rakyat
Einsten Indonesia yang melangkah ke luar kandang
Serta aset bangsa yang meniru budaya barat
Apakah benar Indonesia kaya?
Apakah benar Indonesia hebat?
Sanubariku selalu mengetuk jalan pikiranku
Seolah-olah ia berkata padaku,
“Pandanglah ke depan untuk waktu yang terus berputar!
Penjajahan tidak lagi mengurung kita
Perang belum meletus di tanah air tercinta
Tapi, apa yang terjadi pada aset bangsa?
Ke mana Indonesia ini akan dibawa?”
Aku yakin
Dan aku tak pernah berhenti berharap
Dengan budaya yang masih mengikat cinta
Dengan rangkaian cinta yang selalu dikemas
Indonesia akan bangkit kembali
Semangatnya akan terus berkibar
Seperti Sang Saka Merah Putih
Yang terus berkibar
Di antara harimau yang siap menerkam
Home » Posts filed under Puisi Kritik Sosial
Reaksionir
REAKSIONIR
Puisi Ayu Nurlaila Indah
Tanpa gelatak umbar-umbar
Riuh redah dadaku mendentum rindu
Picingan nakal laten pun membiasa
Selubung oleh teduhan matamu
Mekar oleh uluman senyummu
Aku menikmati…
Aku mengincar…
Satu tahun,
Dua tahun,
Cih !!
Lebih seinci mozaiknya dungkul
Keadaan eksentrik menjebak
Nyata ketidakmungkirannya
Dia sepertiku,
Tersayat, aku pilih mundur
Mengalah, menyurut tanpa mulut
Deminya, aliansiku dengannya
Dan sekarang,
Aku hanya ingin reaksionir ada untuk kita
Puisi Ayu Nurlaila Indah
Tanpa gelatak umbar-umbar
Riuh redah dadaku mendentum rindu
Picingan nakal laten pun membiasa
Selubung oleh teduhan matamu
Mekar oleh uluman senyummu
Aku menikmati…
Aku mengincar…
Satu tahun,
Dua tahun,
Cih !!
Lebih seinci mozaiknya dungkul
Keadaan eksentrik menjebak
Nyata ketidakmungkirannya
Dia sepertiku,
Tersayat, aku pilih mundur
Mengalah, menyurut tanpa mulut
Deminya, aliansiku dengannya
Dan sekarang,
Aku hanya ingin reaksionir ada untuk kita
Home » Posts filed under Puisi Kritik Sosial
Langkah Ritmis Kaki Anjing
LANGKAH RITMIS KAKI ANJING
Puisi Hari Jogja
Berjalan dengan keempat kakinya menyusur lorong gelap kota,
dimana wanita-wanita berkutang saja
melongok lewat jendela kamarnya dan laki-lakinya menyulut rokok hingga membara.
Suara langkah serupa kerikil menimpa genting,
begitu ritmis beradu kuku dan ubin,
gelak tawa dan desahan kecil-kecil si anjing masih sibuk dengan lorong gelapnya,
sedang aku masih sibuk menyantap beberapa tusuk sate telur puyuh
sembari menatap ngeri pada malam kotaku.
harijogja
Puisi Hari Jogja
Berjalan dengan keempat kakinya menyusur lorong gelap kota,
dimana wanita-wanita berkutang saja
melongok lewat jendela kamarnya dan laki-lakinya menyulut rokok hingga membara.
Suara langkah serupa kerikil menimpa genting,
begitu ritmis beradu kuku dan ubin,
gelak tawa dan desahan kecil-kecil si anjing masih sibuk dengan lorong gelapnya,
sedang aku masih sibuk menyantap beberapa tusuk sate telur puyuh
sembari menatap ngeri pada malam kotaku.
harijogja
Home » Posts filed under Puisi Kritik Sosial
Indonesia, Aku Masih Tetap Mencintaimu
INDONESIA, AKU MASIH TETAP MENCINTAIMU
Puisi Ahmadun Yosi Herfanda
Indonesia, aku masih tetap mencintaimu
Sungguh, cintaku suci dan murni padamu
Ingin selalu kukecup keningmu
Seperti kukecup kening istriku
Tapi mengapa air matamu
Masih menetes-netes juga
Dan rintihmu pilu kurasa?
Burung-burung bernyanyi menghiburmu
Pesawat-pesawat menderu membangkitkanmu
Tapi mengapa masih juga terdengar tangismu?
Apakah kau tangisi hutan-hutan
Yang tiap hari digunduli pemegang hapeha?
Apakah kau tangisi hutang-hutang negara
Yang terus menumpuk jadi beban bangsa?
Apakah kau tangisi nasib rakyatmu
Yang makin tergencet kenaikan harga?
Atau kau sekadar merasa kecewa
Karena rupiahmu terus dilindas dolar amerika
Dan IMF, rentenir kelas dunia itu,
Terus menjerat dan mengendalikan langkahmu?
Ah, apapun yang terjadi padamu
Indonesia, aku tetap mencintaimu
Ingin selalu kucium jemari tanganmu
Seperti kucium jemari tangan ibuku
Sungguh, aku tetap mencintaimu
Karena itulah, ketika orang-orang
Ramai-ramai membeli dolar amerika
Tetap kubiarkan tabunganku dalam rupiah
Sebab sudah tak tersisa lagi saldonya!
Jakarta, 1997/2008
Puisi Ahmadun Yosi Herfanda
Indonesia, aku masih tetap mencintaimu
Sungguh, cintaku suci dan murni padamu
Ingin selalu kukecup keningmu
Seperti kukecup kening istriku
Tapi mengapa air matamu
Masih menetes-netes juga
Dan rintihmu pilu kurasa?
Burung-burung bernyanyi menghiburmu
Pesawat-pesawat menderu membangkitkanmu
Tapi mengapa masih juga terdengar tangismu?
Apakah kau tangisi hutan-hutan
Yang tiap hari digunduli pemegang hapeha?
Apakah kau tangisi hutang-hutang negara
Yang terus menumpuk jadi beban bangsa?
Apakah kau tangisi nasib rakyatmu
Yang makin tergencet kenaikan harga?
Atau kau sekadar merasa kecewa
Karena rupiahmu terus dilindas dolar amerika
Dan IMF, rentenir kelas dunia itu,
Terus menjerat dan mengendalikan langkahmu?
Ah, apapun yang terjadi padamu
Indonesia, aku tetap mencintaimu
Ingin selalu kucium jemari tanganmu
Seperti kucium jemari tangan ibuku
Sungguh, aku tetap mencintaimu
Karena itulah, ketika orang-orang
Ramai-ramai membeli dolar amerika
Tetap kubiarkan tabunganku dalam rupiah
Sebab sudah tak tersisa lagi saldonya!
Jakarta, 1997/2008
Home » Posts filed under Puisi Kritik Sosial
Suksesi
SUKSESI
Puisi Acep Syahril
jangan ngomong kalau tadi kau pilih partai
lain demi menghindari calon wakil rakyat atau
pemimpin yang tak berpihak pada rakyat jangan takut
dimusuhi diancam apalagi dipukuli karena kau telah
menerima kaos sabun mandi beras gula dan kopi
jangan cemas sebab memilih adalah hak kamu untuk
menentukan yang terbaik dari yang terburuk
yakinlah roda becak roda angkot dan roda glodok
mulungmu lebih berharga dari kursi yang mereka
perebutkan hari ini yakinlah kursi reot di rumahmu
atau kursi kering di kantormu lebih berharga dari
kursi yang mereka perebutkan hari ini jadi jangan
lagi kompromi dengan mereka yang pura-pura bijaksana
kalau akhirnya akan mencabik-cabik dan membunuh
aspirasi kita
sekarang buka mata buka telinga membaca yang bijak
pilih yang berakhlaqul qarimah dan ingat kalau
kau memilih warna jangan lupa keberanian kalau
kau memilih angka jangan lupa kepribadian sebab
antara warna dan angka tersembunyi watak negarawan
dan bajingan juga pahamilah bahwa kehancuran
republik ini karena kemarin kita telah salah
memilih mereka yang diyakini mampu memimpin
diam-diam telah bersekutu dengan penghianat dan jin
antara koruptor maling penipu dan pembunuh kerjasama
dengan para penegak hukum antara perampok pemerkosa
dan pecundang kongkalingkong dengan wakil-wakil rakyat
akhirnya kita jadi keledai tersaruk-saruk di bawah
kekuasaan yang tergadai sekali lagi pahamilah
bahwa kekayaan kesederhanaan kemiskinan dan
ketertindasan sementara menjadi nasib kita
sedangkan partai jabatan dan kekuasaan adalah milik
mereka jadi kita harus mengerti siapa jembatan yang
merakyat dan siapa jembatan yang melaknat dan kita
juga harus mampu membaca mana simbol rakyat dan
mana simbol laknat sebab perjalanan indonesia lalu
adalah guru penguasa yang tidak punya malu
pringkasap, indramayu
Puisi Acep Syahril
jangan ngomong kalau tadi kau pilih partai
lain demi menghindari calon wakil rakyat atau
pemimpin yang tak berpihak pada rakyat jangan takut
dimusuhi diancam apalagi dipukuli karena kau telah
menerima kaos sabun mandi beras gula dan kopi
jangan cemas sebab memilih adalah hak kamu untuk
menentukan yang terbaik dari yang terburuk
yakinlah roda becak roda angkot dan roda glodok
mulungmu lebih berharga dari kursi yang mereka
perebutkan hari ini yakinlah kursi reot di rumahmu
atau kursi kering di kantormu lebih berharga dari
kursi yang mereka perebutkan hari ini jadi jangan
lagi kompromi dengan mereka yang pura-pura bijaksana
kalau akhirnya akan mencabik-cabik dan membunuh
aspirasi kita
sekarang buka mata buka telinga membaca yang bijak
pilih yang berakhlaqul qarimah dan ingat kalau
kau memilih warna jangan lupa keberanian kalau
kau memilih angka jangan lupa kepribadian sebab
antara warna dan angka tersembunyi watak negarawan
dan bajingan juga pahamilah bahwa kehancuran
republik ini karena kemarin kita telah salah
memilih mereka yang diyakini mampu memimpin
diam-diam telah bersekutu dengan penghianat dan jin
antara koruptor maling penipu dan pembunuh kerjasama
dengan para penegak hukum antara perampok pemerkosa
dan pecundang kongkalingkong dengan wakil-wakil rakyat
akhirnya kita jadi keledai tersaruk-saruk di bawah
kekuasaan yang tergadai sekali lagi pahamilah
bahwa kekayaan kesederhanaan kemiskinan dan
ketertindasan sementara menjadi nasib kita
sedangkan partai jabatan dan kekuasaan adalah milik
mereka jadi kita harus mengerti siapa jembatan yang
merakyat dan siapa jembatan yang melaknat dan kita
juga harus mampu membaca mana simbol rakyat dan
mana simbol laknat sebab perjalanan indonesia lalu
adalah guru penguasa yang tidak punya malu
pringkasap, indramayu
Home » Posts filed under Puisi Kritik Sosial
Silet
SILET
Puisi Acep Syahril
Dengan silet kusayat biji mata kamu karena kamu
tak gerah memandang kebodohan kemiskinan bertumpu
padahal keterpurukan dan kehancuran seperti
gadis cantik yang sedang diintai para pemburu
dengan silet kusayat otak banak kamu karena kamu
dengan licik mencipta api dan tangan-tangan besi
memasang telinga di seluruh tembok dan dinding
rumah kami lalu diam-diam kamu jerat dan kamu pasung
seluruh hak kami
dengan silet kusayat dada dan kantung hati kamu
karena kamu selalu tampil dengan segala atas nama
menjual segala yang kami harap dan suka lalu
demi kedudukan kamu tiup partai jadi syurga
dengan silet kusayat kedua sudut mulut kamu
karena kamu sering memberanakkan kata-kata tanpa
pernikahan rasa najis dan haram jadah karenanya
kami selalu tertipu dengan janji-janji kamu
jambi
Puisi Acep Syahril
Dengan silet kusayat biji mata kamu karena kamu
tak gerah memandang kebodohan kemiskinan bertumpu
padahal keterpurukan dan kehancuran seperti
gadis cantik yang sedang diintai para pemburu
dengan silet kusayat otak banak kamu karena kamu
dengan licik mencipta api dan tangan-tangan besi
memasang telinga di seluruh tembok dan dinding
rumah kami lalu diam-diam kamu jerat dan kamu pasung
seluruh hak kami
dengan silet kusayat dada dan kantung hati kamu
karena kamu selalu tampil dengan segala atas nama
menjual segala yang kami harap dan suka lalu
demi kedudukan kamu tiup partai jadi syurga
dengan silet kusayat kedua sudut mulut kamu
karena kamu sering memberanakkan kata-kata tanpa
pernikahan rasa najis dan haram jadah karenanya
kami selalu tertipu dengan janji-janji kamu
jambi