NYANYIAN SENDUH
Puisi Nurasmah Attafhunnisa
Tetes kehidupan dalam kaca jendelaku...
serasa tertarik sendu di pinggiran rawa...
mengairi derasnya batu yang terjal...
bersembunyi di antara kerikil tajam...
Pandangan rindung akan dunia...
yang kapanpun dapat berakhir...
seperti nyanyian sendu dib pagi buta...
membangunkan aura yang terlelap...
Semarakkan teriakan gemuruh di hati...
katakan pengabdian di bawah telapak tangan...
bunga kuncup, bermekaran akankah ia...
membawakan cinta lewat nyanyian sendu...
Home » Posts filed under Puisi Sedih
Kutinggalkan Luka
KUTINGGALKAN LUKA
Puisi Didin L-chank Akura
Kutinggal luka dipelupuk mata kekasihku
Berderai rindu menyusup rongga hidup
Disesali harusnya menjadi tongkat
Pada hidup disela kemunafikan.
Luka lama yang kubina pada siapa saja disana
Tapi bukan untukmu. Kekasihku
Aku masih ingat
Pada gelombang yang membawa luka
Pada beliung yang membawa kesengsaraan
Pada hujan yang membawa kehancuran
Padamu yang kutinggalkan luka
Tapi hatimu takkan hancur
Sudah kutimbun berton-ton , semen dari negeri seberang
Biar engkau tak lagi meneteskan hujan digamisku
Kutinggalkan luka bukan selamanya
Pada kekasihku diseberang lautan
Agar engkau kuat pada derita
Sebelum halal ku menyentuhmu
Kekasihku.
Luka yang kutinggalkan adalah surga terindah untukmu
Palembang, 16 April 2012
Puisi Didin L-chank Akura
Kutinggal luka dipelupuk mata kekasihku
Berderai rindu menyusup rongga hidup
Disesali harusnya menjadi tongkat
Pada hidup disela kemunafikan.
Luka lama yang kubina pada siapa saja disana
Tapi bukan untukmu. Kekasihku
Aku masih ingat
Pada gelombang yang membawa luka
Pada beliung yang membawa kesengsaraan
Pada hujan yang membawa kehancuran
Padamu yang kutinggalkan luka
Tapi hatimu takkan hancur
Sudah kutimbun berton-ton , semen dari negeri seberang
Biar engkau tak lagi meneteskan hujan digamisku
Kutinggalkan luka bukan selamanya
Pada kekasihku diseberang lautan
Agar engkau kuat pada derita
Sebelum halal ku menyentuhmu
Kekasihku.
Luka yang kutinggalkan adalah surga terindah untukmu
Palembang, 16 April 2012
Home » Posts filed under Puisi Sedih
Harapan Kesunyian Hati
HARAPAN KESUNYIAN HATI
Puisi Geri Susino
Terpaku dalam kegundahan hati
Terasa tak dapat ku lawan dengan jari-jari
Tiada lagi tempat hari yang terasa ada
Hanya lelah
Lelah yang ku rasa……………
Andaikan waktu itu tak terjadi
Mungkin hatiku takan remuk seperti ini
Langkahku terhenti dalam kelamnya malam
Mataku terhalang jurang yang dalam
Pendengaranku sayup-sayup tak menentu
Hatiku terombang ambing dalam ombak kemarahan
Ragaku tak berkuasa untuk berfungsi
Mungkin tiada lagi yang dapat terjadi saat ini
Semangatku lemah hatiku susah
Teringat malam itu yang menyakitkan
Inikah kehidupan?
Kurasa semua bukan seperti ini
Mungkin masih ada titik terang
Yang akan menyinari kegelapan hati
Memberi pujian untuk diri sendiri
Meredamkan semua yang ada saat ini
Hingga aku dapat kembali ke kehidupan yang indah ini
Puisi Geri Susino
Terpaku dalam kegundahan hati
Terasa tak dapat ku lawan dengan jari-jari
Tiada lagi tempat hari yang terasa ada
Hanya lelah
Lelah yang ku rasa……………
Andaikan waktu itu tak terjadi
Mungkin hatiku takan remuk seperti ini
Langkahku terhenti dalam kelamnya malam
Mataku terhalang jurang yang dalam
Pendengaranku sayup-sayup tak menentu
Hatiku terombang ambing dalam ombak kemarahan
Ragaku tak berkuasa untuk berfungsi
Mungkin tiada lagi yang dapat terjadi saat ini
Semangatku lemah hatiku susah
Teringat malam itu yang menyakitkan
Inikah kehidupan?
Kurasa semua bukan seperti ini
Mungkin masih ada titik terang
Yang akan menyinari kegelapan hati
Memberi pujian untuk diri sendiri
Meredamkan semua yang ada saat ini
Hingga aku dapat kembali ke kehidupan yang indah ini
Home » Posts filed under Puisi Sedih
Kepingan Hati
KEPINGAN HATI
Puisi Meri Oktari
Kasih..
Mengertikah kau akan "Aku" ?
"Cintaku" ?
"Sayangku"?
Indah kilau mutiara
Kini tinggal kerdipan saja
Sinarnya REDUP sudah
Kau takan pahami "arti" hati ini..
Kau takan perduli "sakit" hati ini
jika saja orang-orang dapat melihat hati
kan kuperlihatkan hati ini padamu
Hatiku tlah bercelah menunggu KEHANCURAN
kau tahu ?
Cintakulah yang paling sabar
Ia menurut tanpa menuntut
Ia mengalah tanpa lelah
jika suatu saat kau hancurkan hati ini
ingatlah..
Aku akan tetap mencintaimu dengan "kepingan hatiku" yang tersisa ..
Puisi Meri Oktari
Kasih..
Mengertikah kau akan "Aku" ?
"Cintaku" ?
"Sayangku"?
Indah kilau mutiara
Kini tinggal kerdipan saja
Sinarnya REDUP sudah
Kau takan pahami "arti" hati ini..
Kau takan perduli "sakit" hati ini
jika saja orang-orang dapat melihat hati
kan kuperlihatkan hati ini padamu
Hatiku tlah bercelah menunggu KEHANCURAN
kau tahu ?
Cintakulah yang paling sabar
Ia menurut tanpa menuntut
Ia mengalah tanpa lelah
jika suatu saat kau hancurkan hati ini
ingatlah..
Aku akan tetap mencintaimu dengan "kepingan hatiku" yang tersisa ..
Home » Posts filed under Puisi Sedih
Tak Ingin Kembali Mencinta
TAK INGIN KEMBALI MENCINTA
Puisi Dinda Amallia Roslyeanna
Aku yang dulu cintaimu
aku yang dulu sayangimu, dan
aku yang dulu banggakan mu, kini kau sia siakan
Kau acuhkan aku dengan kebekuanmu
kau acuhkan aku dengan dinginnya tingkahmu
Kau sakiti aku dengan keegoisanmu
kau sakiti aku karna over protectivannya dirimu
Kau yang kupercaya tak pernah mempercayaiku
kau yang ku anggap mengacuhkan aku
kau buat hasrat ini muncul,
hasrat ku untuk tak mencinta lagi muncul karna kau yang sakitu ku
Cukup engkau yang sakitiku
cukup engkau yang acuhkan ku, dan
cukup engkau yang pernaha ku cinta..
Puisi Dinda Amallia Roslyeanna
Aku yang dulu cintaimu
aku yang dulu sayangimu, dan
aku yang dulu banggakan mu, kini kau sia siakan
Kau acuhkan aku dengan kebekuanmu
kau acuhkan aku dengan dinginnya tingkahmu
Kau sakiti aku dengan keegoisanmu
kau sakiti aku karna over protectivannya dirimu
Kau yang kupercaya tak pernah mempercayaiku
kau yang ku anggap mengacuhkan aku
kau buat hasrat ini muncul,
hasrat ku untuk tak mencinta lagi muncul karna kau yang sakitu ku
Cukup engkau yang sakitiku
cukup engkau yang acuhkan ku, dan
cukup engkau yang pernaha ku cinta..
Home » Posts filed under Puisi Sedih
Ketenangan - Puisi Nurdiansyah Widhi Saputra
KETENANGAN
Puisi Nurdiansyah Widhi Saputra
Aku ngin hidup tenang
Aku ngin sekali saja bisa merasakan ketenangan
Aku ngin pergi ke suatu tempat.....
Tapi ku bingung.....
Aku harus kemana ..........
Aku ngin hidup tenang ....................Tapi
Aku terkadang juga kesepian
Aku tak tahu harus apa.........
Aku ngin hidup tenang ..............Tapi
Ketenangan yg kuharapkan bukanlah kematian
Aku hanya ngin merasakan ketenangan dengan orang yg ku sayang
Aku hanya mencari ketenangan dalam hitungan jam
Bukan tuk lari dari kehidupan
Aku ngin mencari ketenangan ...........Tapi
Semakin ku mencarinya ...........
Aku makin tersesat dalam bayang-bayang yang ku ciptakan
Sempat ku berfikir...........
Mungkin ketenengan yg ku cari hanya da di Negri Khayalan
Puisi Nurdiansyah Widhi Saputra
Aku ngin hidup tenang
Aku ngin sekali saja bisa merasakan ketenangan
Aku ngin pergi ke suatu tempat.....
Tapi ku bingung.....
Aku harus kemana ..........
Aku ngin hidup tenang ....................Tapi
Aku terkadang juga kesepian
Aku tak tahu harus apa.........
Aku ngin hidup tenang ..............Tapi
Ketenangan yg kuharapkan bukanlah kematian
Aku hanya ngin merasakan ketenangan dengan orang yg ku sayang
Aku hanya mencari ketenangan dalam hitungan jam
Bukan tuk lari dari kehidupan
Aku ngin mencari ketenangan ...........Tapi
Semakin ku mencarinya ...........
Aku makin tersesat dalam bayang-bayang yang ku ciptakan
Sempat ku berfikir...........
Mungkin ketenengan yg ku cari hanya da di Negri Khayalan
Home » Posts filed under Puisi Sedih
Aku Kembali
AKU KEMBALI
Puisi Murni Oktarina
Ku tapaki jalan-jalan bebatuan
Detik demi detik aku berusaha untuk kuat
Jalan tandus dan gersang tak ku hiraukan
Tetap tertatih walau rasanya berat
Hatiku…
Bukan kehendakku ingin seperti ini
Masih banyak hal yang ingin kugapai bersamamu hatiku
Tapi, aku takut kita akan segera pergi
Pergi ke tempat yang jauh dan sepi
Menghilangkan penderitaanku selama ini
Aku kan bisa tenang dan bahagia
Kembali pada Sang Pencipta untuk istirahat selamanya
Puisi Murni Oktarina
Ku tapaki jalan-jalan bebatuan
Detik demi detik aku berusaha untuk kuat
Jalan tandus dan gersang tak ku hiraukan
Tetap tertatih walau rasanya berat
Hatiku…
Bukan kehendakku ingin seperti ini
Masih banyak hal yang ingin kugapai bersamamu hatiku
Tapi, aku takut kita akan segera pergi
Pergi ke tempat yang jauh dan sepi
Menghilangkan penderitaanku selama ini
Aku kan bisa tenang dan bahagia
Kembali pada Sang Pencipta untuk istirahat selamanya
Home » Posts filed under Puisi Sedih
Akhir Ceritaku
AKHIR CERITAKU
Puisi Murni Oktarina
Terdiam ku menatapmu
Kau pergi dariku
Memang berat bila cintaku
Tak terbalas dari dirimu
Harapan putuslah sudah
Terpaksa ku lepaskan hatimu
Bayangan kisah yang indah
Telah hilang tak menyatu
Menangis ku disini
Biarlah ku lepas semua ini
Asalkan kau bahagia disana
Bersama bintangmu selamanya
Langit dan bulan
Kumohon hibur dukaku
Inilah perpisahan
Akhir dari ceritaku
Puisi Murni Oktarina
Terdiam ku menatapmu
Kau pergi dariku
Memang berat bila cintaku
Tak terbalas dari dirimu
Harapan putuslah sudah
Terpaksa ku lepaskan hatimu
Bayangan kisah yang indah
Telah hilang tak menyatu
Menangis ku disini
Biarlah ku lepas semua ini
Asalkan kau bahagia disana
Bersama bintangmu selamanya
Langit dan bulan
Kumohon hibur dukaku
Inilah perpisahan
Akhir dari ceritaku
Home » Posts filed under Puisi Sedih
Cinta tak Harus Memiliki
CINTA TAK HARUS MEMILIKI
Puisi Harry
Apakah aku salah..
jika aku mencintaimu..
dan menyayangimu...
Tapi aku bingung
aku tak bisa ungkapkan semua itu
aku merasa takut
kalau kau akan pergi jauh dariku
Aku tau,kalau aku salah
telah mencintai dirimu
yang telah memiliki seorang kekasih
Biarkanlah cintaku ini aku pendam
dan biarkan aku merasakan semua
kesedihan ini...
Aku tau karena cinta
tak harus memiliki
karena itu aku merasa bahagia
ketika aku melihat dirimu bahagia....
meskipun smua itu terasa skit............
bagiku....
Puisi Harry
Apakah aku salah..
jika aku mencintaimu..
dan menyayangimu...
Tapi aku bingung
aku tak bisa ungkapkan semua itu
aku merasa takut
kalau kau akan pergi jauh dariku
Aku tau,kalau aku salah
telah mencintai dirimu
yang telah memiliki seorang kekasih
Biarkanlah cintaku ini aku pendam
dan biarkan aku merasakan semua
kesedihan ini...
Aku tau karena cinta
tak harus memiliki
karena itu aku merasa bahagia
ketika aku melihat dirimu bahagia....
meskipun smua itu terasa skit............
bagiku....
Home » Posts filed under Puisi Sedih
Mati Ditelan Bumi
MATI DITELAN BUMI
Puisi Muhammad Rianda Safriyanto
Langit telah mendung untuk selamanya.
Hujan deras mengguyur tanpa henti.
Tiada pelangi, tiada warna-warni.
Tersapu, tenggelam,
Seperti pasir yang diterjang ombak lautan.
Ganas, garang, seakan hancur tak berbentuk lagi.
Laksana berdiri di karang yang rapuh,
Aku menjadi goyah, penuh keraguan.
Angan yang kupilih, tertiup sia-sia dan menjauh
Tak ada harapan, tak ada impian.
Ibarat burung kehilangan sayapnya,
Tak bisa menjelajahi langit berteman matahari .
Aku telah lupa untuk melanglang buana,
mencari cinta di dalam hati.
Ibarat ikan yang tiada siripnya,
Tak bisa menyelami ke dasar sanubari.
Aku telah lalai menyelami, siapa aku ini,
Jati diri macam apakah aku ini.
Ibarat singa yang patah taringnya,
Telah gagal menjadi pemimpin hati sendiri.
Aku sadari dan mengangkat kepala,
Entah mengapa harus terjadi.
Bumi yang terpijak telah salah memilihku.
Seolah menarikku dan ingin mengenyahkanku.
Melemparkanku ke tanah gersang dan kering.
Bermandikan debu kotor, jijik dan bising.
Andai bisa memilih,
tutupkanlah hati ini,
Kacaukanlah fikiran ini.
Agar aku tak dapat menikmati keindahan dunia ini,
Agar aku tak dapat merasakan surga duniawi,
Agar aku tak dapat menginjakkan kaki ke neraka Ilahi.
Butakah mataku ini ?
Yang hanya melirik kegemerlapan disana-sini.
Tanpa melihat semua intisari.
Tulikah aku ini ?
Tak bisa mendengar senda gurau para bidadari.
Tertawaan, hinaan, dan cacian jadi alunan musik nan indah sehari-hari.
Bisukah aku ini ?
Berdiam diri tanpa menyairkan senandung merdu melodi.
Berdendang riang gembira bersama kicau burung kasuari.
lupakah aku ini ?
Kurang bersyukur dari rezeki
Kurang berterima kasih atas kecukupan selama ini.
Kurang puas dan ingin selalu minta lebih.
Bodohnya aku ini,
Yang tak sadar akan semua ini.
Akhiratlah stasiun saatku mati.
Tempat membalas kelakuanku di bumi.
Dimana tubuhku tak hancur dan abadi.
Aku ini hanya berasal dari setetes mani
Yang dibesarkan ibu dengan cinta kasih.
Dididik dan diajari
Sopan santun dan budi pekerti.
Buat apa rela bercucuran keringat,
Buat apa rela bermandikan darah,
Tak kusesali segala yang kubuat,
Karena aku harap ini berakhir indah.
Tak kan aku tangisi,
Karena mati ditelan bumi, itu jauh lebih berarti.
Dari pada hidup bertemankan sepi.
Mengurung diri dan berteriak tanpa henti.
Ampunan tak kan lagi kuberi.
Kan kupelajari penyesalan ini.
Bangun dari pembaringan dan bangkit kembali.
Untuk esok yang lebih cerah bagai mentari.
Puisi Muhammad Rianda Safriyanto
Langit telah mendung untuk selamanya.
Hujan deras mengguyur tanpa henti.
Tiada pelangi, tiada warna-warni.
Tersapu, tenggelam,
Seperti pasir yang diterjang ombak lautan.
Ganas, garang, seakan hancur tak berbentuk lagi.
Laksana berdiri di karang yang rapuh,
Aku menjadi goyah, penuh keraguan.
Angan yang kupilih, tertiup sia-sia dan menjauh
Tak ada harapan, tak ada impian.
Ibarat burung kehilangan sayapnya,
Tak bisa menjelajahi langit berteman matahari .
Aku telah lupa untuk melanglang buana,
mencari cinta di dalam hati.
Ibarat ikan yang tiada siripnya,
Tak bisa menyelami ke dasar sanubari.
Aku telah lalai menyelami, siapa aku ini,
Jati diri macam apakah aku ini.
Ibarat singa yang patah taringnya,
Telah gagal menjadi pemimpin hati sendiri.
Aku sadari dan mengangkat kepala,
Entah mengapa harus terjadi.
Bumi yang terpijak telah salah memilihku.
Seolah menarikku dan ingin mengenyahkanku.
Melemparkanku ke tanah gersang dan kering.
Bermandikan debu kotor, jijik dan bising.
Andai bisa memilih,
tutupkanlah hati ini,
Kacaukanlah fikiran ini.
Agar aku tak dapat menikmati keindahan dunia ini,
Agar aku tak dapat merasakan surga duniawi,
Agar aku tak dapat menginjakkan kaki ke neraka Ilahi.
Butakah mataku ini ?
Yang hanya melirik kegemerlapan disana-sini.
Tanpa melihat semua intisari.
Tulikah aku ini ?
Tak bisa mendengar senda gurau para bidadari.
Tertawaan, hinaan, dan cacian jadi alunan musik nan indah sehari-hari.
Bisukah aku ini ?
Berdiam diri tanpa menyairkan senandung merdu melodi.
Berdendang riang gembira bersama kicau burung kasuari.
lupakah aku ini ?
Kurang bersyukur dari rezeki
Kurang berterima kasih atas kecukupan selama ini.
Kurang puas dan ingin selalu minta lebih.
Bodohnya aku ini,
Yang tak sadar akan semua ini.
Akhiratlah stasiun saatku mati.
Tempat membalas kelakuanku di bumi.
Dimana tubuhku tak hancur dan abadi.
Aku ini hanya berasal dari setetes mani
Yang dibesarkan ibu dengan cinta kasih.
Dididik dan diajari
Sopan santun dan budi pekerti.
Buat apa rela bercucuran keringat,
Buat apa rela bermandikan darah,
Tak kusesali segala yang kubuat,
Karena aku harap ini berakhir indah.
Tak kan aku tangisi,
Karena mati ditelan bumi, itu jauh lebih berarti.
Dari pada hidup bertemankan sepi.
Mengurung diri dan berteriak tanpa henti.
Ampunan tak kan lagi kuberi.
Kan kupelajari penyesalan ini.
Bangun dari pembaringan dan bangkit kembali.
Untuk esok yang lebih cerah bagai mentari.
Home » Posts filed under Puisi Sedih
Catatan Hitam
CATATAN HITAM
Puisi Murni Oktarina
Pedih menapaki jalanan tajam
Perih menatap hamparan kabut kelam
Sakit merasakan derita yang tak kunjung hilang
Lelah menanti secercah cahaya yang tak pernah datang
Akankah ini semua akan berakhir
Menunggu sisa-sisa nafas terakhir
Tapi, apakah akan berakhir tanpa ada cahaya
Tanpa ada penyatuan hati bagian hidup
Ah sudahlah...Biarlah...
Sudah cukup semua ini dirasakanm, aku harus meninggalkan
Menghitamkan hati, menutup jiwa, hingga
Tak terlihat, tak terasa, sampai raga sudah terpendam di jiwa
Puisi Murni Oktarina
Pedih menapaki jalanan tajam
Perih menatap hamparan kabut kelam
Sakit merasakan derita yang tak kunjung hilang
Lelah menanti secercah cahaya yang tak pernah datang
Akankah ini semua akan berakhir
Menunggu sisa-sisa nafas terakhir
Tapi, apakah akan berakhir tanpa ada cahaya
Tanpa ada penyatuan hati bagian hidup
Ah sudahlah...Biarlah...
Sudah cukup semua ini dirasakanm, aku harus meninggalkan
Menghitamkan hati, menutup jiwa, hingga
Tak terlihat, tak terasa, sampai raga sudah terpendam di jiwa
Home » Posts filed under Puisi Sedih
Sekali Lagi Aku Relakan Dia
SEKALI LAGI AKU RELAKAN DIA
Puisi Murni Oktarina
Tak ada habisnya tentang dia
Selalu saja tentang dia
Baru saja harapanku berkembang
Kini harapan itu telah sengaja menghilang
Karena dia telah kembali pada cintanya
Buat dia bahagia seperti dulu
Buat dia bisa tersenyum bahagia dengan cintanya
Yang tak bisa kuberi dengan cintaku
Sekali lagi, aku relakan dia
Aku relakan demi kebahagiaannya
Aku sudah cukup bahagia
Meski hanya dapat mencintainya
Puisi Murni Oktarina
Tak ada habisnya tentang dia
Selalu saja tentang dia
Baru saja harapanku berkembang
Kini harapan itu telah sengaja menghilang
Karena dia telah kembali pada cintanya
Buat dia bahagia seperti dulu
Buat dia bisa tersenyum bahagia dengan cintanya
Yang tak bisa kuberi dengan cintaku
Sekali lagi, aku relakan dia
Aku relakan demi kebahagiaannya
Aku sudah cukup bahagia
Meski hanya dapat mencintainya
Home » Posts filed under Puisi Sedih
Tak Sempurna
TAK SEMPURNA
Puisi LIK
Jangan percaya pada apa siapa ada
Terlebih pada siapa yang dibenci
Siapa dicinta dia pendusta
Antara kita... antara kita
Jiwa raga beta
Percayakan pada diri
Menghilang benci di hari-hari
Percayalah-percalah ...
Pedih kini perih di sini sukma ini
Puisi LIK
Jangan percaya pada apa siapa ada
Terlebih pada siapa yang dibenci
Siapa dicinta dia pendusta
Antara kita... antara kita
Jiwa raga beta
Percayakan pada diri
Menghilang benci di hari-hari
Percayalah-percalah ...
Pedih kini perih di sini sukma ini
Home » Posts filed under Puisi Sedih
Pergulatan Ruang Batin
PERGULATAN RUANG BATIN
Puisi Handaka Sugito
Awalnya hanya sebuah cerita seperti halnya cerita pepesan kosong yang tiada berarti. Runtut dalam kesedihan panjang yang tersusun bertumpuk menyesakkan dada. Terurai bak sebuah kisah dalam telenovela. Kadang tertawa meski sebenarnya menangis. Kadang menangis meski sebenarnya tertawa. Yah....mentertawakan durasi sebuah cerita pergulatan batin yang diyakini sebagai sebuah pengabdian dan ketulusan.
Meski sejenak untuk sekedar menyisihkan waktu, coba memahami sequil cerita dari empunya. Pembaktian dirinya yang luar biasa menimbulkan rasa haru. Kepedihan hatinya menimbulkan rasa hormat. Bukan basa-basi, bukan pula sebuah elegi yang pantas ditertawakan. Tidak pula lantas bisa dikatakan sebuat ironi dalam perjuangan sebuah bahtera kehidupan.
Dalam kesendirian, menerawang sebuah angan untuk berbagi. Menyusun dan menuliskan sepotong cerita yang tak sempat terselesaikan. Mematrikan sebuah makna agar dapat dikenang. Lalu...tersendat karena waktu.
Beristirahatlah untuk menikmati kedamaian rasa cinta, meski hanya secuil. Biarkan rasa itu perlahan merayapi kening....damai. Biarkan rasa itu mulai memberkahi lebih dari sekadar pelarian derita. Cinta itu akan memberi kekuatan emosional untuk tetap tegar melangkah dalam membimbing dan mengarahkan buah kasih dalam perjalanan panjang.
Berhentilah dari perasaan menyiksa diri dengan pertanyaan “kenapa ?”. Terkadang emosi hanya bisa menyalahkan siapa, tanpa peduli dengan pertanyaan "apa ?".
Percayalah...diujung pencarian masih ada setapak jalan untuk melangkah. Masih ada haru yang akan mengobati luka. Masih ada ruang sempit untuk memasang bingkai. Masih ada kesopanan & penghargaan yang pantas diterima. Hanya soal kepedulian yang mungkin ter-kesampingkan, tapi percayalah....bahwa berbagi cerita dalam pergulatan peluh akan mengobati rasa duka.
Ketika detak nafas mulai berpacu dan bulir keringat memberikan kesaksian, mungkin kedamaian akan sedikit melegakan. Lalu.......satu demi satu rangkaian kata akan kembali tertata memahatkan sebuah cerita yang takkan terlupa.
Samarinda, 15 April 2012
Puisi Handaka Sugito
Awalnya hanya sebuah cerita seperti halnya cerita pepesan kosong yang tiada berarti. Runtut dalam kesedihan panjang yang tersusun bertumpuk menyesakkan dada. Terurai bak sebuah kisah dalam telenovela. Kadang tertawa meski sebenarnya menangis. Kadang menangis meski sebenarnya tertawa. Yah....mentertawakan durasi sebuah cerita pergulatan batin yang diyakini sebagai sebuah pengabdian dan ketulusan.
Meski sejenak untuk sekedar menyisihkan waktu, coba memahami sequil cerita dari empunya. Pembaktian dirinya yang luar biasa menimbulkan rasa haru. Kepedihan hatinya menimbulkan rasa hormat. Bukan basa-basi, bukan pula sebuah elegi yang pantas ditertawakan. Tidak pula lantas bisa dikatakan sebuat ironi dalam perjuangan sebuah bahtera kehidupan.
Dalam kesendirian, menerawang sebuah angan untuk berbagi. Menyusun dan menuliskan sepotong cerita yang tak sempat terselesaikan. Mematrikan sebuah makna agar dapat dikenang. Lalu...tersendat karena waktu.
Beristirahatlah untuk menikmati kedamaian rasa cinta, meski hanya secuil. Biarkan rasa itu perlahan merayapi kening....damai. Biarkan rasa itu mulai memberkahi lebih dari sekadar pelarian derita. Cinta itu akan memberi kekuatan emosional untuk tetap tegar melangkah dalam membimbing dan mengarahkan buah kasih dalam perjalanan panjang.
Berhentilah dari perasaan menyiksa diri dengan pertanyaan “kenapa ?”. Terkadang emosi hanya bisa menyalahkan siapa, tanpa peduli dengan pertanyaan "apa ?".
Percayalah...diujung pencarian masih ada setapak jalan untuk melangkah. Masih ada haru yang akan mengobati luka. Masih ada ruang sempit untuk memasang bingkai. Masih ada kesopanan & penghargaan yang pantas diterima. Hanya soal kepedulian yang mungkin ter-kesampingkan, tapi percayalah....bahwa berbagi cerita dalam pergulatan peluh akan mengobati rasa duka.
Ketika detak nafas mulai berpacu dan bulir keringat memberikan kesaksian, mungkin kedamaian akan sedikit melegakan. Lalu.......satu demi satu rangkaian kata akan kembali tertata memahatkan sebuah cerita yang takkan terlupa.
Samarinda, 15 April 2012
Home » Posts filed under Puisi Sedih
Derita Tercampur Luka - Puisi Siti Halimah
DERITA BERCAMPUR LUKA
Puisi Siti Halimah
Debu tercampur luka
menyayat hati bak daging sapi
melumurkan rasa bersalah yang tak terampuni....
Kelopak mawar yg dulu mekar,
kini telah pudar bersama luka...
Apa dunia yang salah ?
apa hidupku yang salah ?
atau....
apa takdirku yang salah ???
Kudambakan dirinya...
ku puja-puji dirinya...
ku sanjung-sanjung dia sampai dia senang....
Sungguh sedih...
sedih sekali...
setiap hari...
setiap waktu....
hanya bisa menciumnya lewat udara...
Walau bumi memang bertujuan lain...
biarlah aku mengalah....
biarlah aku menderita karna kisah cintaku...
Puisi Siti Halimah
Debu tercampur luka
menyayat hati bak daging sapi
melumurkan rasa bersalah yang tak terampuni....
Kelopak mawar yg dulu mekar,
kini telah pudar bersama luka...
Apa dunia yang salah ?
apa hidupku yang salah ?
atau....
apa takdirku yang salah ???
Kudambakan dirinya...
ku puja-puji dirinya...
ku sanjung-sanjung dia sampai dia senang....
Sungguh sedih...
sedih sekali...
setiap hari...
setiap waktu....
hanya bisa menciumnya lewat udara...
Walau bumi memang bertujuan lain...
biarlah aku mengalah....
biarlah aku menderita karna kisah cintaku...
Home » Posts filed under Puisi Sedih
Letih untuk Sabar
LETIH UNTUK SABAR
Puisi Yuli.f.s
Membendung amarah yang mleuap di dasar hati
Selalu terfikir menjadi hal yang tak mungkin
Dengar semua,ku mliki amarah itu
Amarah yang tak kian surut
Seolah siap tenggelamkan hati yg ada..
Tak sampai pada kehancuran
Kuterus bagkit dari keterpurukan
Ku rasa aku masih mampu
Kubesitkan sedkit harap dalam asaku..
Walau letih terus mendera
Beban batin Kian mnyiksa
Tapi akulah Wanita
Wanita yg berdri untuk tegar
Lebarkan senyum untuk terus berkata
Sabar,sabar,dan tetap sabar..
Puisi Yuli.f.s
Membendung amarah yang mleuap di dasar hati
Selalu terfikir menjadi hal yang tak mungkin
Dengar semua,ku mliki amarah itu
Amarah yang tak kian surut
Seolah siap tenggelamkan hati yg ada..
Tak sampai pada kehancuran
Kuterus bagkit dari keterpurukan
Ku rasa aku masih mampu
Kubesitkan sedkit harap dalam asaku..
Walau letih terus mendera
Beban batin Kian mnyiksa
Tapi akulah Wanita
Wanita yg berdri untuk tegar
Lebarkan senyum untuk terus berkata
Sabar,sabar,dan tetap sabar..
Home » Posts filed under Puisi Sedih
Terjaga - Puisi Fide
TERJAGA
Puisi Fide
Hanyalah topeng dengan semua pelarianku.
Terlalu indah luka yang kau torehkan.
Hingga aku di mabuk kepayang.
Menghilang tanpa bekas jejakmu.
Dan hanyalah jiwa yang kosong mencarimu.
Merindumu,
seperti mengulum pahitnya asa.
Rapuh bersama bayang - bayang inda bersamamu dulu.
Entah dimana kudapatkan lagi bahagia itu.
Hanya sebatas mimpi kurasa.
Melihat senyummu terkadang di alam khayalku saat pagi menjelang.
Sering terjaga dengan segala penungguanku.
Aku tetap mengenangmu.
Merindumu,
Dan ingin mendekapmu.
Sampai aku terlelap untuk selamanya.
Puisi Fide
Hanyalah topeng dengan semua pelarianku.
Terlalu indah luka yang kau torehkan.
Hingga aku di mabuk kepayang.
Menghilang tanpa bekas jejakmu.
Dan hanyalah jiwa yang kosong mencarimu.
Merindumu,
seperti mengulum pahitnya asa.
Rapuh bersama bayang - bayang inda bersamamu dulu.
Entah dimana kudapatkan lagi bahagia itu.
Hanya sebatas mimpi kurasa.
Melihat senyummu terkadang di alam khayalku saat pagi menjelang.
Sering terjaga dengan segala penungguanku.
Aku tetap mengenangmu.
Merindumu,
Dan ingin mendekapmu.
Sampai aku terlelap untuk selamanya.
Home » Posts filed under Puisi Sedih
Kehilanganmu - Puisi Yulia Ws
KEHILANGAN
Puisi Yulia Ws
Tadinya aku berharap besar padamu
Tetapi kau sudah buatku menjadi putus asa
Aku tabahkan hati ini
Jika melihatmu dengannya
Walau sakit hati ku rasa..
Mau bagaimana..?
Aku ungkapkan rasa ini aku malu
Tetapi jika aku biarkan
Semakin perih hatiku
Jangan hilangkan rasa ini..
Walau rasa ini sungguh kehilanganmu
Aku tak ingin hilangkan itu semua
Atau aku memang benar harus kehilanganmu...
Puisi Yulia Ws
Tadinya aku berharap besar padamu
Tetapi kau sudah buatku menjadi putus asa
Aku tabahkan hati ini
Jika melihatmu dengannya
Walau sakit hati ku rasa..
Mau bagaimana..?
Aku ungkapkan rasa ini aku malu
Tetapi jika aku biarkan
Semakin perih hatiku
Jangan hilangkan rasa ini..
Walau rasa ini sungguh kehilanganmu
Aku tak ingin hilangkan itu semua
Atau aku memang benar harus kehilanganmu...
Home » Posts filed under Puisi Sedih
Melangkah Jauh
MELANGKAH JAUH
Puisi Bella Utami
Meski kaki ini begitu berat tuk dilangkah kan.
Namun selalu ku coba tuk menggerakkan nya.
Aku tak mau menjadi anggrek yg selalu bergantung pada sang kayu mangga,
Merebut apa yang ada padanya dan merampas kebahagiannya.
Akan tetapi aku ingin bak burung yang terbang melambai di angkasa.
Melewati sang jagat raya melintasi jalur khatulistiwa.
Memiliki hak tuk terbang dan melangkah.
Puisi Bella Utami
Meski kaki ini begitu berat tuk dilangkah kan.
Namun selalu ku coba tuk menggerakkan nya.
Aku tak mau menjadi anggrek yg selalu bergantung pada sang kayu mangga,
Merebut apa yang ada padanya dan merampas kebahagiannya.
Akan tetapi aku ingin bak burung yang terbang melambai di angkasa.
Melewati sang jagat raya melintasi jalur khatulistiwa.
Memiliki hak tuk terbang dan melangkah.
Home » Posts filed under Puisi Sedih
Terlambat - Puisi
TERLAMBAT
Puisi Awaliya Nur Ramadhana
Sanggupkah kata
Menguraikan semua rasa
Suka dan Duka
Yang sudah menjadi sobat dunia
Jelas kau menghilang cepat
Hanya Karena waktu yang telah lewat
Dan sengaja membuatku terlambat
Menempati sebuah tempat
Jauh tersimpan rapat
Dalam hatimu…
Yang selalu tidak menentu
Sekejap cahaya di matamu
Selalu memberikanku harapan
Yang mungkin hanya rangkaian taktik cemerlang
Yang kau buat khusus untukku
Hanya untuk menciptakan khayalan tinggi
Yang membuatku jatuh dari mimpi
Biarlah jatuh ke jurang
Yang kau buat untukku seorang
Karena ku hanya pengkhayal
Yang tak tahu artinya sial
Puisi Awaliya Nur Ramadhana
Sanggupkah kata
Menguraikan semua rasa
Suka dan Duka
Yang sudah menjadi sobat dunia
Jelas kau menghilang cepat
Hanya Karena waktu yang telah lewat
Dan sengaja membuatku terlambat
Menempati sebuah tempat
Jauh tersimpan rapat
Dalam hatimu…
Yang selalu tidak menentu
Sekejap cahaya di matamu
Selalu memberikanku harapan
Yang mungkin hanya rangkaian taktik cemerlang
Yang kau buat khusus untukku
Hanya untuk menciptakan khayalan tinggi
Yang membuatku jatuh dari mimpi
Biarlah jatuh ke jurang
Yang kau buat untukku seorang
Karena ku hanya pengkhayal
Yang tak tahu artinya sial