Semua Ada

SEMUA ADA
Puisi Issak

Ribuan mata memandanng,
Ratusan wajah menengadah,
Semua seakan binatang
Suara jeritan pu tak di dengar.

Suara....
Hina...........
Benci.......
Semua dirasakan dalam dada

Raja-raja yang berada dikursi goyang,
Lihat kebawah,
Kami tengadah menaruh harapan
belasan kasih kau yang kuasa

Jalan Hidupku Jalan Perantau

JALAN HIDUPKU JALAN PERANTAU
Puisi Muhammad Rianda Safriyanto

Mendung dihati, awan kelabu tak kunjung pergi.
Berjalan berteman bayangan ragawi
Tertatih-tatih merintihkan yang terjadi
Menghapus jejak yang tak bisa hilang lagi.

Aku mati-matian hanya untuk mengejar impian
Meski tak masuk akal, tapi tetap kutahan
Bukan alasan tuk memandang kesedihan
Aku mengejar masa depan, mengejar yang kuidamkan

Mimpi tak seindah kenyataan
Perantauan jadi pilihan
Mengais rezeki, mencari makan
Nasihat orang tua jadi pedoman

Walau kenyataan pahit resah dan bimbang
Tiada senyuman, tiada kasih sayang
Mereka ingin marah, aku terima
Mereka ingin memfitnah, aku terima
Mereka ingin membenciku, aku terima
Mereka ingin tertawa mengejekku, tetap aku terima

Apalah daya ingin melawan…
Aku ditanah orang, bukan di kampung halaman
Tak ada perlindungan, tak ada perhatian
Mengharap belas kasihan tuk meneruskan kehidupan
Berdoa berharap ini takkan terulang.

Apakah salah aku ingin maju ?
Apakah salah nanti ku tak ingin malu ?
Aku hanya berusaha berbuat segalanya
Aku mau orang tuaku bangga
Aku ingin dihargai mereka
Aku masih meraih cita-cita
Walau terkadang mau menyerah

Ingin rasanya punya teman sehati
Berbagi hidup meski dalam mimpi
Mendekap erat berbagi kisah nurani
Menangis merintih dan tak ingin berhenti

Ya biarlah, tak ada arti direnungi
Kuingin buat kisah sejati
Agar dikenang dan dihargai
Perjuangan perantau yang mandiri
Mencoba berhasil karena diri sendiri
Karena inilah jalan hidupku saat ini

Mati Ditelan Bumi

MATI DITELAN BUMI
Puisi Muhammad Rianda Safriyanto

Langit telah mendung untuk selamanya.
Hujan deras mengguyur tanpa henti.
Tiada pelangi, tiada warna-warni.
Tersapu, tenggelam,
Seperti pasir yang diterjang ombak lautan.
Ganas, garang, seakan hancur tak berbentuk lagi.

Laksana berdiri di karang yang rapuh,
Aku menjadi goyah, penuh keraguan.
Angan yang kupilih, tertiup sia-sia dan menjauh
Tak ada harapan, tak ada impian.

Ibarat burung kehilangan sayapnya,
Tak bisa menjelajahi langit berteman matahari .
Aku telah lupa untuk melanglang buana,
mencari cinta di dalam hati.

Ibarat ikan yang tiada siripnya,
Tak bisa menyelami ke dasar sanubari.
Aku telah lalai menyelami, siapa aku ini,
Jati diri macam apakah aku ini.

Ibarat singa yang patah taringnya,
Telah gagal menjadi pemimpin hati sendiri.
Aku sadari dan mengangkat kepala,
Entah mengapa harus terjadi.

Bumi yang terpijak telah salah memilihku.
Seolah menarikku dan ingin mengenyahkanku.
Melemparkanku ke tanah gersang dan kering.
Bermandikan debu kotor, jijik dan bising.

Andai bisa memilih,
tutupkanlah hati ini,
Kacaukanlah fikiran ini.
Agar aku tak dapat menikmati keindahan dunia ini,
Agar aku tak dapat merasakan surga duniawi,
Agar aku tak dapat menginjakkan kaki ke neraka Ilahi.

Butakah mataku ini ?
Yang hanya melirik kegemerlapan disana-sini.
Tanpa melihat semua intisari.

Tulikah aku ini ?
Tak bisa mendengar senda gurau para bidadari.
Tertawaan, hinaan, dan cacian jadi alunan musik nan indah sehari-hari.

Bisukah aku ini ?
Berdiam diri tanpa menyairkan senandung merdu melodi.
Berdendang riang gembira bersama kicau burung kasuari.

lupakah aku ini ?
Kurang bersyukur dari rezeki
Kurang berterima kasih atas kecukupan selama ini.
Kurang puas dan ingin selalu minta lebih.

Bodohnya aku ini,
Yang tak sadar akan semua ini.
Akhiratlah stasiun saatku mati.
Tempat membalas kelakuanku di bumi.
Dimana tubuhku tak hancur dan abadi.

Aku ini hanya berasal dari setetes mani
Yang dibesarkan ibu dengan cinta kasih.
Dididik dan diajari
Sopan santun dan budi pekerti.

Buat apa rela bercucuran keringat,
Buat apa rela bermandikan darah,
Tak kusesali segala yang kubuat,
Karena aku harap ini berakhir indah.

Tak kan aku tangisi,
Karena mati ditelan bumi, itu jauh lebih berarti.
Dari pada hidup bertemankan sepi.
Mengurung diri dan berteriak tanpa henti.

Ampunan tak kan lagi kuberi.
Kan kupelajari penyesalan ini.
Bangun dari pembaringan dan bangkit kembali.
Untuk esok yang lebih cerah bagai mentari.

Pahlawanku - Puisi Nindita Kusumawati

PAHLAWANKU
Puisi Nindita Kusumawati

Oh Pahlawanku
Kau sangat berjasa dan setia pada negeri ini
Kau telah pertaruhkan jiwa ragamu
Demi Indonesia ini
Sampai titik darah penghabisanmu
Lihatlah oh Pahlawanku
Perjuanganmu tak ternilai harganya
Tak peduli darahmu terus mengalir
Karena kau tak tega
Melihat beribu pasang mata
Yang tersiksa dan menderita

Semangatmu tak mengenal putus asa
Tak hanya setinggi tiang
Bendera merah putih saja
Merahnya menggambarkan semangat
Yang terus membara
Putihnya menunjukkan hati
Yang bersih nan suci
Bagaikan sutra putih yang lembut dan wangi

Tapi sekarang kau telah gugur
Dalam medan perang
Namun semangatmu tuk merdeka tak pernah hilang
Sayang beribu kali sayang
Engkau yang dulu berjuang
Kini telah tiada
Ku harap kau bisa tenang di atas sana
Kini hanyalah doa
Yang bisa ku beri untukmu
Sekali lagi terima kasih Pahlawanku

Bangkit Kembali

BANGKIT KEMBALI
Puisi Dinda Aulia

Sinar hariku,, lama ditutup kegelapan…
Kucoba untuk berpikir..berpikir..dan berpikir….
Oh,,ada kesalahan …
Kesalahan yang tajam…

Kucoba untuk bangkit…
Untuk menjadi insane yang bermartabat…
Untuk menjadi orang yang bermanfaat…
Hatiku mengatakan sepakat…

Bangun hatiku… Bangun !!
Masih banyak harapan …
Raihlah segala kemenangan …
Walau banyak,,tantangan…
Oh ,, hariku ….

Rumput Liar

RUMPUT LIAR
Puisi Recky Fernande

Kusapa dedaunan yang bergoyang
Ku sapa hamparan jalanan –jalanan liar
Di mana ka pelatan bangsa ku berada?
Takkala ku berpikir dalam ilusi –ilusi ku

Apakah negeri ini dapat berubah ?
Wahai rumput liar yang bergoyang.
Dikau yang slalu terinjak –injak
Di tengah keputusan –keputusan mereka ,
Para pelakon negeri ini....

Wahai rumput liar yang bergoyang
Dimana ka,hembusan –hembusan angin mu,
Mari ,hembuskan itu....hembuskan itu,

Wahai rumput liar yang bergoyang
Ku tak ingin meliat mereka sengsara ,
Meratap ,kepilauan di tengah pesta penindasan
Oleh mereka sang pengambil kebijakan

MAKASSAR
09-04-2012

Tanah Airku

TANAH AIRKU
Puisi Abdul Tata

Angin berdesir dipantai
Burung berkicau dengan merdu
Embun pagi membasahi rumput-rumput
Itulah tanah airku
Sawahnya menghijau
Gunungnya tinggi menjulang
Rakyat aman dan makmur

Indonesiaku
Tanah tumpah darahku
Jaga dan rawatlah selalu
Disanalah aku dilahirkan dan dibesarkan
Disanalah aku menutup mata
Oh..... tanah airku tercinta
Indonesia jaya.....

Kapitalis Menolak Krisis

KAPITALIS MENOLAK KRISIS
Puisi Dias  Nurhadias

Lelah menyerpih pada setiap denyutan jam
Sosok itu masih membanting tulang
Mungkin takan dihentikan sebelum remuk
Sebelum kepingan uang menjadi emas

Sungguh malang nasibmu nak !
Menanti di mengerti namun tak kunjung datang
Sudahlah kupikir kau tinggal menunggu mati !!
Atau pergi dengan harapan mendapatkan pengertian

Mereka hanya peduli akan laba
Sedikit saja berkurang bibir mereka peka
Pikirkan juga tuan manusia terlahir merdeka

Pemuda Untuk Perubahan

PEMUDA UNTUK PERUBAHAN
Puisi Ananda Rezky Wibowo

Indonesia Menangis
bahkan tercabik
dengan hebatnya penguasanya korupsi
tak peduli rakyatnya mengemis

Kesejahteraan tinggallah angan
keadilan hanyalah khayal
kemerdekaan telah terjajah
yang tersisah hanya kebodohan

Indonesiaku, Indonesia kalian
jangan hanya tinggal diam kawan
mari bersatu ambil peranan
sebagai pemuda untuk perubahan...

Perjuangan Tak Pasti

PERJUANGAN TAK PASTI
Puisi Rhindy Marfiyanti

Teriknya mentari menyentuh kalbu
Tak terasa angin merambah rasa
Hanya terasa peluh merambah jiwa

Ku coba melangkah ke sana
Tak jua ku temukan suatu hal
Ku langkahkan kembali kakiku
Tapi ku masih tak temukan sesuatu itu

Saat ku berhenti tuk bersandar
Ku memohon dan berserah
Apa aku di beri sebuah peluang
Tuk bisa hidup nyaman

Oh tuhan…….
Perjuangan ini sungguh meresahkan
Perjuangan ini sungguh membingungkan
Perjuangan ini tak menemukan jalan

Kaki tak kuat untuk melangkah
Jiwa tak kuat untuk bangun
Hati tak sanggup untuk merasa
Otak tak bisa untuk berfikir

Hidupku……….
Kenapa kau ditakdirkan seperti ini
Hanya berharap dari perjuangan yang tak pasti
Hidup ini terasa sangat membingungkan

Pengorbanan

PENGORBANAN
Puisi Siti Halimah

Mengucur deras keringat
Membasahi tubuh yang terikat
Membawa angan, jauh ntah kemana ?

Bagaikan pungguk merindukan rembulan,
Jiwa ini terpuruk dalam kesedihan

Pagi yang menjadi malam,
dan Bulan yang menjadi Tahun.

Sekian lama telah menanti,
Dirinya tak jua terlepas.

Andai diriku sang Ksatria,
Aku sudah pasti menyelamatkannya.

Namun semua itu hanya mimpi.
Dirinyalah yang harus berusaha
untuk membawa dirinya pergi dari kegelapan abadi.

Menilik Kelapukan Raga

MENILIK KELAPUKAN RAGA
Puisi Deska Chayoo

LapUknya perahu yg mNjadi tmpatku b'Layar
mNjadikan kaki ku suLit tUk m'Langkah lagi
smua pEtuaLangan bagai b'akhir dLm jLan k'gaLauan
mimpi bsar ku trus t'ombang_ambing d tNgah_tNgah badai ombak yg enggan mEnepI
kUsUt dan tak tErurus ituLah layar perahu tmpat ku b'pijak kini
kompas yg ku bwa sulit m'nunjukkan suatu arah
wLw s'kedar tUk mNgisyaratkan k'beradaan suatu pulau
t'ombang-ambing dan t'ombang-ambing
s'org diri ku d tngah lautan yg hitam
laut yg trasa pahit dan m'racuni
tnpa s'org awk yg mNgikuti
akuLah yg s'org diri
yg msih m'cari sebuah dermaga tuk tmpat ku b'Labuh... 

Lang Ling Lung

LANG LING LUNG
Puisi Johar Jibriliyansah

khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
memutar balikkan segala yang ada
kaki menjadi kepala, kepala menjadi kaki
banyak ribuan benar menjadi salah

ditanganmu kata menjadi sebilah belati
ribuan kata baik yang terucap sampai kelangit
tanpa tangan kau angkat, tanpa kaki kau langkahkan
hanya bisa berdiri kaku diatas mimbar kekuasaan
menjadikan pikiran sebagai alat pemerasan
kau terus saja berkata, berkata, dan berkata
menebar pesona dengan bau bangkai dimana mana

Langkah Ritmis Kaki Anjing

LANGKAH RITMIS KAKI ANJING
Puisi Hari Jogja

Berjalan dengan keempat kakinya menyusur lorong gelap kota,
dimana wanita-wanita berkutang saja
melongok lewat jendela kamarnya dan laki-lakinya menyulut rokok hingga membara.

Suara langkah serupa kerikil menimpa genting,
begitu ritmis beradu kuku dan ubin,
gelak tawa dan desahan kecil-kecil si anjing masih sibuk dengan lorong gelapnya,
sedang aku masih sibuk menyantap beberapa tusuk sate telur puyuh
sembari menatap ngeri pada malam kotaku.

harijogja

Pahlawanku

PAHLAWAN KU
Puisi Rezha Hidayat

Ohh........ Pahlawan ku
Bagaimana ku bisa
Membalas jasa-jasa mu
Yang telah kau berikan untuk bumi pertiwi

Haruskah aku turun ke medan perang
Haruskah aku mandi berlumurkan darah
Haruskah aku tertusuk pisau belati penjajah
Aku tak tahu cara untuk membalas jasa mu

Engkau rela mengorbankan nyawa mu
Demi suatu kemerdekaan yang mungkin  
Tak bisa kau raih dengan tangan mu sendiri
Ohh......... pahlawan ku Engkau lah Bunga Bangsa

Indonesia, Aku Masih Tetap Mencintaimu

INDONESIA, AKU MASIH TETAP MENCINTAIMU
Puisi Ahmadun Yosi Herfanda

Indonesia, aku masih tetap mencintaimu
Sungguh, cintaku suci dan murni padamu
Ingin selalu kukecup keningmu
Seperti kukecup kening istriku
Tapi mengapa air matamu
Masih menetes-netes juga
Dan rintihmu pilu kurasa?

Burung-burung bernyanyi menghiburmu
Pesawat-pesawat menderu membangkitkanmu
Tapi mengapa masih juga terdengar tangismu?
Apakah kau tangisi hutan-hutan
Yang tiap hari digunduli pemegang hapeha?
Apakah kau tangisi hutang-hutang negara
Yang terus menumpuk jadi beban bangsa?
Apakah kau tangisi nasib rakyatmu
Yang makin tergencet kenaikan harga?
Atau kau sekadar merasa kecewa
Karena rupiahmu terus dilindas dolar amerika
Dan IMF, rentenir kelas dunia itu,
Terus menjerat dan mengendalikan langkahmu?

Ah, apapun yang terjadi padamu
Indonesia, aku tetap mencintaimu
Ingin selalu kucium jemari tanganmu
Seperti kucium jemari tangan ibuku
Sungguh, aku tetap mencintaimu
Karena itulah, ketika orang-orang
Ramai-ramai membeli dolar amerika
Tetap kubiarkan tabunganku dalam rupiah
Sebab sudah tak tersisa lagi saldonya!

Jakarta, 1997/2008

Indonesiaku Kini

INDONESIAKU KINI
Puisi Awaliya Nur Ramadhana

Negaraku cinta Indonesia 
Nasibmu kini menderita 
Rakyatmu kini sengsara 
Pemimpin yang tidak bijaksana 
Apakah pantas memimpin negara  
yang aman sentosa

Oh Indonesia tumpah darahku 
Apakah belum terbit, 
Seorang pemimpin yang kita cari
Apakah rasa kepemimpinan itu  
masih disimpan di nurani
Tertinggal di lubuk hati 
Tak dibawa sekarang ini 

Rakyat membutuhkanmu
Seorang Khalifatur Rasyidin
Yang setia dalam memimpin
Menyantuni fakir miskin
Mengasihani anak yatim

Kami mengharapkan pemimpin 
yang soleh dan solehah
Pengganti tugas Rasulullah
Sebagai seorang pemimpin ummah
Yang bersifat Siddiq dan Fatanah

Andaikan kutemukan
Seorang pemimpin dunia
Seorang pemimpin agama
Seorang pemimpin  Indonesia

Hanya Allah Yang Mengetahuinya

Negeri Impian

NEGERI IMPIAN
Puisi Efoel Lintang

rembulan terbit dari barat, seperti wajahmu yang bulat
seakan menyiratkan yang tak tersurat
dibalik kharisma kemilaunya cahaya yang semburat
menghipnotis hati biar terpikat
lemah gemulai gerakanmu
iringi lagu rindu yang mendayu
sendu tatap matamu  menghiba pelepas rindu
tujuh purnama telah kau tunggu
tujuh negeri telah kau lewati
masih belum kau temui apa yang kau cari
diantara bimbangnya hati
apa sebenarnya yang kau cari
tanpa jawab yang kau dapati
bertambah galaulah hati
melihat nasib ini negeri
anak kurang gizi
bergelimpangan bayi mati
ibu-ibu tak punya asi
menggilanya aborsi
merajalelanya multilasi
ditingkahi bobroknya birokrasi ini negeri


lubuklinggau, 18 januari 2012